Sungguh sangat ironis bila seseorang itu tidak mengenal dengan kata “cinta”. Baik itu datang dari mulut manusia maupun datang dari media-media yang ada di lingkungan sekitar. Cinta itu adalah sebuah mesin pembius yang akan meninabobokan manusia. Kecintaan seseorang yang dalam dan sungguh-sungguh pada sesuatu benar-benar dapat membius makhluk hidup, membuat manusia tidak bisa melepaskan diri darinya. Bahkan membuat hidup menjadi tidak bernilai sama sekali. Dengan adanya “cinta” itulah seseorang yang dulunya lemah bisa menjadi kuat, yang dulunya pasif menjadi aktif, dan juga dulunya biasa akan menjadi luar biasa.
Namun yang seringkali kemudian menjadi persoalan adalah,
Kepada siapa kata “cinta” itu ditujukan ?
Kepada siapa perasaan cinta itu diberikan?
Kepada siapa makna cinta itu diungkapkan?
Akan tetapi manusia sering terjebak dalam kecintaan pada sesuatu yang sesungguhnya tidak sesuai dengan fitrah manusia.
Semua itu sangatlah mudah kita temukan di lingkungan sekitar kita. Banyaknya orang korupsi karena cinta harta, banyaknya orang yang melakukan tindak kriminal karena cinta dunia, banyaknya kalangan remaja yang terjaring narkoba, seks bebas, pacaran karena cinta semu, dan masih banyak lagi ungkapan cinta yang tidak sesuai dengan fitrahnya manusia dan manusia pun akan menjadi terlaknat karena mencintainya.
Di zaman globalisasi seperti ini, dibalik berkembangnya teknologi, yang terjadi malah makin kokohnya “cinta” semu itu. Maraknya pornografi maupun pornoaksi baik itu datang dari media elektronik maupun dari media massa, dan juga bisa terlihat dari samping kiri, kanan, depan, belakang kita, semua itu makin hari makin menjadi penyakit yang kapan saja bisa menggerogoti moral umat muslim. Makin maraknya semua itu tidak terlepas karena tidak adanya pemerintahan yang benar-benar menaungi, melindungi, dan mengayomi umat muslim. Sekali lagi semua itu adalah dampak dari tidak diterpakannya Syariat islam secara kaffah dan semakin maraknya ungkapan “cinta” yang tidak sesuai.
Namun ketika di dalam hati manusia bersemi cinta pada yang Pemilik Cinta maka cintamu tentulah menjadi mulia, dan manusia itu akan menjelma menjadi manusia yang mulia pula. Dengan makna cinta yang sejati inilah orang yang lemah menjadi kuat, orang biasa menjadi luar biasa. Hidup penuh dengan cinta kasih sebagaimana yang ada dalam sejarah kehidupan umat muslim pada masa Rasullullah dan para sahabat. Sebagaimana yang difirmankan Allah bahwa umat muslim telah dinobatkan sebagai khairu ummat (umat terbaik) maka kita harus bangga sebagai umat muslim untuk menebarkan benih-benih cinta sejati hanya kepada Allah S.W.T, Rasulnya, Agamanya, dan umat muslim.
Padahal sudah banyak fakta yang memberikan gambaran tentang cinta sejati dan cinta semu itu sendiri.
Apakah kita tidak melihat,
Apakah kita tidak mendengar,
Apakah kita tidak merasakan,
Padahal “cinta sejati” itu ada dihadapan kita,
Padahal “cinta sejati” itu ada di sekitar kita,
Padahal “cinta sejati” itu ada di dalam hati kita.
Wahai sobat muda muslim……
Saatnya membuktikan cinta sejati kita dengan:
Kita ridho sebagai hamba Allah S.W.T semata.
Kita ridho sebagai umat nabi Muhammad S.A.W.
Kita ridho menjadikan islam sebagai pedoman hidup.
Wahai sobat muda muslim……
Saatnya kita merapatkan barisan bahwasanya kita adalah khairu ummat (umat terbaik). Semua permasalahan sekarang baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, maupun pemerintahan hanya akan selesai dengan menjalankan syariat Islam secara kaffah dan tegaknya Daulah Islamiyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar